Bagi pandangan manusia modern
agama dan filsafat merupakan dua kutub dari corak berpikir manusia yang sama
sekali berbeda, bahkan seringkali dianggap bertentangan satu sama lainnya. Terlebih
jika agama yang dimaksudkan adalah agama
samawi (agama langit) seperti Yahudi, Kristen dan Islam. Agama (samawi) dianggap sebagai cara pandang
manusia terhadap kehidupannya, yang bertolak dari kebenaran ilahiyah (trancendent)
yang disampaikan kepada manusia melalui wahyu yang diturunkan kepada utusan
Tuhan (Nabi dan Rasul) dan karenanya dianggap bersifat mutlak dan tidak bisa
diganggu gugat keabsahannya. Sementara filsafat adalah suatu cara manusia
menemukan kebenaran (hikmah), dengan cara mempertanyakan (meragukan) semua hal
yang ada, termasuk di dalamnya keberadaan dan kebenaran Tuhan, untuk kemudian
memberikan jawaban dari semua pertanyaan itu – baik secara spekulatif maupun
absolut, yang sama sekali bertolak dari kekuatan akal manusia sendiri. Agama,
yang dianggap memiliki kebenaran mutlak (absolut) yang karena itu mengandung
tabu-tabu yang tidak boleh dilanggar, bahkan juga tidak boleh dipertanyakan apalagi
diragukan. Sebaliknya filsafat hampir selalu mengandaikan adanya kebebasan yang
mutlak bagi manusia untuk mengembangkan kemampuan akal dan pikirannya, sehingga
dengan begitu semua kebenaran dapat terungkap dan menjadi acuan bagi manusia
dalam bertindak dan berprilaku.
Tetapi pertentangan semacam itu
tidak terdapat dalam agama ardhy
(agama bumi). Agama ardhy adalah
agama yang dianggap sebagai agama yang diciptakan oleh para pendirinya, yang
oleh sejarah tidak dikenal sebagai Nabi dan Rasul yang diutus oleh Tuhan
(Allah). Agama ardhy umumnya terdapat
di dunia belahan timur, seperti agama Brahma/Hindu (lahir lk 2000 sM) dan Budha
(Sidharta/660-483 sM) di India, agama Zoroaster (Zarathustra/660-583 sM) di
Persia kuno, agama Shinto (lahir lk 660 sM) di Jepang, agama Tao (Lao
Tze/605-524 sM) dan Kunghuchu (Kong Hu Chu/551-479 sM) di Cina. Karena dianggap
merupakan ciptaan manusia, maka antara filsafat dengan agama itu sendiri tidak
ada perbedaannya. Agama ya filsafat dan filsafat ya agama. Meskipun begitu,
sama sekali tidak bisa dianggap bahwa semua agama ardhy itu tidak mengandung
kebenaran ilahiyah di dalamnya. Hanya saja, seperti halnya agama Yahudi yang
urutan penulisan kitab suci mereka tidak dapat dipertanggung jawabkan secara
ilmiah, dalam arti apa yang tertulis di dalam kitab suci mereka adalah
betul-betul merupakan wahyu yang diterima oleh Nabi Musa a.s. dari A sampai Z
nya, maka boleh jadi kitab suci mereka sudah merupakan karangan manusia juga.
Dalam pada itu, bagi pandangan Islam sendiri, ada 124.000 Nabi dan 312 diantaranya
adalah Rasul yang telah diutus oleh Allah SWT ke muka bumi, yang tidak
seluruhnya dapat dikenali dalam sejarah. Hal ini sesuai dengan hadits riwayat Thurmudzy
yang artinya, “Dari Abi Dzar Al-Ghifari radhiyalllahu 'anhu bahwa Rasulullah
SAW bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi, ‘(Jumlah para nabi itu)
adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi.’ Para
shahabat bertanya lagi, ‘Lalu berapa jumlah rasul di antara mereka?’ Beliau
menjawab, ‘Tiga ratus dua belas(312) orang’." Jadi tidak tertutup juga
kemungkinan bahwa pada hakekatnya agama
ardhy itu pada awalnya adalah agama
samawi juga, yang kebenaran ilahiyah di dalamnya sudah banyak yang
diselewengkan.
Jadi sebetulnya tidaklah terlalu
relevan kalau orang beranggapan bahwa ada pertentangan yang esensial antara
agama dan filsafat. Sejauh tidak ada ancaman bagi keselamatan jiwa seseorang,
sebetulnya kan tidak ada masalah jika ada orang yang “meyakini” bahwa
kebebasannya untuk berpikir adalah lebih utama dalam hidupnya dari pada ketundukannya
kepada Tuhan. Ya, silahkan saja. Tetapi, ya jangan juga berkecil hati atau
marah jika ada orang yang menganggapnya “kafir” atau “murtad” (jika sebelumnya
dia adalah penganut agama tertentu), atau bahkan dikucilkan dari masyarakatnya
jika mayoritas anggota masyarakat di mana dia hidup adalah penganut agama
tertentu. Sebaliknya juga begitu dengan penganut agama. Tidak ada masalah juga
jika ada orang yang memilih menganut agama tanpa perlu berpikir secara mendalam
mengapa dia menganut agama tersebut, apa perlunya dia menyembah Tuhan tertentu.
Itu artinya dia menyerahkan dirinya bulat-bulat, begitu saja, kepada pemuka
agamanya yang diharapkannya akan membawanya kepada pemenuhan harapan-harapan
yang ditawarkan oleh agama itu. Yang bukan tidak mungkin diselewengkan juga. Dan yang lebih buruk lagi: menjadi bagian dari keruntuhan peradaban yang bersumber dari agamanya itu. Maka yang
jelas dan penting itu sebetulnya adalah, bahwa semua pilihan, semua tindakan sosial
manusia itu, ada konsekwensinya sendiri-sendiri. Tinggal lagi, sejauh mana
manusia mampu bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya dan tidak berupaya
untuk memaksa orang lain untuk mengikuti pilihannya.
Agama Kristen, sebagaimana yang
diwariskan oleh almarhum Imperium Romawi kepada kaum barbar, berisi tiga unsur
berikut: pertama, keyakinan-keyakinan filsafat tertentu, terutama bersumber
dari Plato dan kaum Neoplatonis, namun untuk sebagian juga dari kaum Stoa;
kedua, konsepsi moral dan sejarah yang berasal dari bangsa Yahudi; dan ketiga,
teori-teori tertentu, khususnya mengenai penebusan, yang secara garus besar
merupakan pandangan baru dalam Krsitianitas, kendati sebagian bisa dilacak pada
Orphisme, dan pada kultus-kultus yang masih serumpun di kawasan Timur Dekat. [27]
Filsuf Philo, yang hidup sezaman dengan Kristus, bisa menjadi ilustrasi terbaik
tentang pengaruh Yunani terhadap bangsa Yahudi dalam kancah pemikiran. Meski
berpandangan ortodoks dalam agama, Philo dalam bidang filsafat terutama adalah
seorang Platonis; pengaruh penting lainnya berasal dari filsafat Stoa dan
Neophythagorean. Kendati pengaruhnya terhadap umat Yahudi lantas berhenti
sesudah jatuhnya Yerusalem, para Bapa Kristiani melihat bahwa ia telah merintis
jalan untuk mendamaikan filsafat Yunani dengan Kitab Suci Ibrani. [28]
Sementara itu, seperti sudah disinggung pada paraghraph-paraghraph terdahulu,
bahwa dengan dimenangkannya aliran Athanasianism - yang banyak dipengaruhi oleh ajaran Paulus
(yang pada masa mudanya pernah belajar filsafat Stoa di Yunani), pada konsili
Gereja Katholik pertama di Nicae, praktis pengaruh filsafat sudah menjadi
bagian yang inheren di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Setidaknya pada bagian
Surat-surat Rasul Paulus.
Namun “perkawinan” agama dengan filsafat dengan cara seperti itu tidak
terdapat dalam agama Islam. Adalah naif sekali jika ada anggapan bahwa Nabi
Muhammad sudah pernah belajar filsafat sebelumnya, ketika memulai dakwahnya
pada tahun 610 M. Muhammad pada kenyataan sejarahnya, adalah seorang yang tidak
pandai membaca maupun menulis (buta huruf). Juga tidak pernah menempuh suatu
pendidikan secara formal dalam suatu bidang tertentu. Pergaulan intelektualnya
hingga saat turunnya wahyu pertama itu, hanyalah berkisar di dalam kota Mekkah saja. Disamping itu penulisan
Al-Qur’an menjadi kitab sebagaimana dikenal dewasa ini, hanya berjarak 19 tahun
dari sejak wafatnya dan dibukukan oleh para shahabatnya yang mendengarkan dan
mencatatkannya langsung pada pelepah korma atau apa saja yang bisa mereka pakai
untuk mencatat, sebagaimana yang mereka mendengarnya dari lisan Nabi Muhammad
secara langsung itu. “Perkawinan” agama dengan filsafat di dalam Islam tidak
sampai menyentuh kepada isi kitab sucinya. Anggapan pihak barat bahwa
monoteisme Islam adalah bersumber dari agama Yahudi, salah satunya seperti yang
dikutip oleh Bertrand Russel dari pendapat Townsend yang menuliskan Kata
Pengantar untuk terjemahan Kitab Makabe Keempat ke dalam bahasa Inggris, yang
menyatakannya sebagai berikut:
“Telah disebutkan dengan
jelas bahwa sekiranya Yudaisme sebagai agama telah musnah di bawah kekuasaan
Antiokus, persemaian Kristianitas akan lemah; dan demikianlah darah para martir
Keluarga Makabe, yang menyelamatkan Yudaisme, akhirnya menjadi benih-benih
lahirnya Gereja. Dengan demikian, karena bukan hanya Kekristenan namun juga
Islam mengambil sifat monoteismenya dari sumber Yahudi, bisa dikatakan bahwa
dunia sekarang ini dalam hal keberadaan monotesime baik di Timur maupun Barat
berhutang budi pada Keluarga Makabe.” [29]
Anggapan seperti ini tentu saja
tidak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah sama sekali, dan semata-mata
menunjukkan ketidak mengertian mereka terhadap konsepsi ketauhidan (monoteisme)
menurut doktrin Islam. Bahwa bagi konsepsi monoteisme menurut doktrin Islam,
semua Nabi dan Rasul yang pernah diutus oleh SWT ke muka bumi adalah
semata-mata mengajarkan ketauhidan (monoteisme), sejak dari Nabi Adam a.s.
hingga Nabi Muhammad SAW. Di dalam surat
Al-Anbiyaa (21:25) dikatakan : Dan Kami tidak mengutus seorang
rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada
Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.’
Jadi, para Nabi dan Rasul menurut pandangan Islam bukanlah pendiri agama.
Tugasnya adalah membetulkan yang sudah bengkok dan membuat
penyempurnaan-penyempurnaan. Setiap kali manusia kembali ingkar (kufur)
terhadap keesaan Tuhan, maka Tuhan akan mengutus satu atau dua Nabi atau Rasul
yang akan membetulkannya. Sampai akhirnya Tuhan “menganggap” cukup dan lalu
mengutus Nabi atau Rasul-Nya yang terakhir. Muhammad
itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi
dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu. (Q.S. Al-Ahzab 33: 40)
“Perkawinan” antara filsafat
dengan agama di dalam Islam justru terjadi, yaitu ketika kekuasaan dari dinasti-dinasti
monarki Islam sudah semakin meluas sampai ke Eropa dan Asia Kecil. Penaklukan
Mesir pada masa pemerintahan Umar ibn Khattab, secara menakjubkan telah membukakan
kepada dunia kotak pandora khazanah peradaban lama, dengan ditemukannya buku-buku
filsafat Yunani kuno di kota Alexandria,
Mesir. Ketika kesatuan politik Islam sudah mapan kembali pada masa pemerintahan
Dinasti Umayyah, dan hubungan dengan warga taklukan (ahludz-dzimmah) sudah berlangsung baik, dapatlah buku-buku itu
disalin dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Proses itu terus berlanjut pada
masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, yang mengambil Bagdad di Irak sebagai
pusat pemerintahannya. Kelak sejarah mencatat kota
Bagdad sebagai kota
termegah dan menjadi mercu suar peradaban dunia (lihat: Tamim Ansary – “Dari
Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam”, Penerbit Zaman, Jakarta).
“Perkawinan” agama dengan
filsafat dalam dunia Islam berlangsung dalam dua ranah yang berbeda, namun
saling melengkapi satu sama lainnya. Sebagiannya menekuni bidang filsafatnya
saja, menyusun sistematika filsafatnya sendiri, mewarnai dan memasukkan
unsur-unsur ajaran Islam ke dalamnya. Hasil karya mereka dalam sejarah filsafat
kemudian dikenal sebagai Filsafat Skolastik Islam, yang pada gilirannya ikut
pula mewarnai Filsafat Skolastik Barat (Kristen). Mereka antaranya adalah
Al-Farabi (870-950 M), Ibnu Sina (980-1037 M)
dan Ibnu Rusyd (1126-1198 M). Sementara pada sisi lain, filsafat juga
masuk pada ranah Teologi Islam atau disebut juga Ilmu Kalam. Jejak filsafat
dalam aliran teologi Islam lainnya tidak terlalu kentara. Yang paling kentara
adalah pada aliran teologi Mu’tazilah yang sempat mencapai kejayaan dan menjadi
mazhab resmi negara pada masa pemerintahan Abbasiyah. Mu’tazilah didirikan oleh
Washil ibn Atha’ (700 - 750 M) di Basrah, Irak.
”Perkawinan” antara filsafat
dengan agamapun ternyata tidak membawa manusia kepada kebenaran hakiki dalam
kehidupan bersama (sosial) manusia. Lembaga Inkuisisi di lingkungan agama
Kristen dan juga kewajiban taklid pada mazhab tertentu di dalam Islam, telah
menorehkan lembaran hitam dalam sejarah peradaban manusia. Intinya membangun
intoleransi atas nama Tuhan dan menguburkan dalam-dalam peluang munculnya
perbedaan dalam cara menafsirkan kebenaran Tuhan. Hukum Tuhan yang dijalankan
manusia, yang karenanya tidak ada pembantahan di dalamnya, memperoleh
rasionalisasi pembenarannya pada filsafat. Akibatnya, yang pada hakekatnya semestinya
terbuka bagi penafsiran manusia, mengalami ortodoksi di semua lini.
Perkembangan ilmu pengetahuan terhenti akibat adanya kewajiban di atas diri
ummat untuk tunduk dan patuh terhadap suatu mazhab teologi tertentu, sementara
agama menjadi pembenaran bagi kekuasan absolut manusia atas nama Tuhan secara
sepihak.
_________
[27] Bertrand Russel, "Sejarah Filsafat Barat dan
Kaitannya Dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno Hingga Sekarang" (History of Western Philosophy and its
Connection with Political and Social Circumstances from the Earliest Times to
the Present Day, London, 1946), Terjemahan Sigit Jatmiko, dkk., Penerbit
Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cet Ketiga, 2007, hlm 415
[28] Ibid,
hlm 433
[29] Ibid, hlm 425

Tidak ada komentar:
Posting Komentar