![]() |
| Piagam Konsili Nicae |
Musa (Islam: Nabi Musa a.s.) diperkirakan hidup antra 1300 -1200
sebelum Masehi, di Semenanjung Sinai, Mesir. Musa mengajarkan kepada manusia
bahwa yang berkuasa atas diri mereka bukanlah para penguasa duniawi (Fir’aun),
tetapi yang berkuasa atas diri manusia adalah Allah Yang Maha Esa. Di dalam
agama Yahudi disebut Yahweh atau Yehuwa. Secara garis besar keseluruhan
ajaran Musa berkisar pada apa disebut di dalam Al-Kitab (Perjanjian Lama)
sebagai Sepuluh Perintah Allah (ten
commandements): 1. Akulah TUHAN,
Allahmu ... Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. 2. Jangan
membuat bagimu patung yang menyerupai apapun ...3. Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan ... 4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat ...
5. Hormatilah ayahmu dan ibumu ... 6.
Jangan membunuh… 7. Jangan berzinah… 8. Jangan mencuri... 9. Jangan
mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu…10. Jangan mengingini rumah sesamamu ... (Jangan mengingini milik sesamamu).
Inilah inti dari apa yang oleh sejarah agama-agama disebut sebagai syari’at
Musa atau hukum agama (Yahudi). Ummat Yahudi dikenal sebagai ummat yang
menerapkan syari’at agamanya secara ketat.
Ummat Yahudi meyakini bahwa semua
yang tertulis dalam kitab Torah (Taurat Musa), salah satu dari tiga kitab suci
agama Yahudi, adalah langsung dari lisan Nabi Musa. Tetapi para ahli sejarah,
utamanya sarjana-sarjana Bible (Biblical
Scholars) meragukan hal itu. Torah, yakni Taurat Musa, yang terdiri atas lima
buah kitab, di dalam masa berabad-abad lamanya diajarkan secara turun temurun
dari mulut ke mulut, terutama dalam kalangan para Imam dan para Rabbi, hingga
sifatnya adalah Oral Torah (Taurat
Lisan). Pemikiran ke arah penyusunan
Torah itu timbul buat pertama kalinya pada diri Nabi Ezra (salah seorang Nabi
di kalangan agama Yahudi, setelah Musa) yang hidup sekitar tahun 460 sebelum
Masehi. Jadi ada masa sekitar kurang lebih 800 tahun (8 abad) lamanya, atau
kurang lebih antara 10 sampai 15 generasi hidup manusia, Torah berstatus kitab
yang lisan. Sulitlah membayangkan suatu kitab suci dapat utuh terwariskan hanya
dari mulut ke mulut, tanpa mengalami distorsi, dalam jangka waktu yang begitu
lama dan generasi yang berbeda-beda.
Agama Yahudi sepanjang sejarahnya
memang tidak pernah mengalami kejayaan sebagai agama yang secara masive dianut oleh
satu kelompok atau masyarakat pada zaman manapun, sehingga layak disebut
sebagai sebuah peradaban yang berlatar belakang agama. Bahkan berbagai
penindasan dari penguasa dunia seringkali menimpa mereka untuk waktu yang lama
dan sering terjadi dalam waktu yang berbeda-beda, mereka harus hidup secara
berpencar tanpa wilayah yang dapat diklaim sebagai tanah air tradisional mereka
(diaspora). Negeri mereka Judea
(Kanaan) senantiasa berada dan menjadi bagian dari penaklukan kerajaan-kerajaan
besar, seperti raja Saragon II
(722-705 sM) dari Assyria dan juga raja Nebukhadnezar (605-561 sM) dari
Babilonia. Mengalami sedikit kelonggaran tekanan ketika wilayah mereka menjadi
taklukan Cyrus the Great (550-530 sM) dari Persia.
Tetapi kembali dalam penindasan di bawah penaklukan Alexander the Great dari
Makedonia, yang disusul oleh dinasti Saelucids
(305-168 sM) dari Grik/Yunani. Pernah mendirikan kerajaan nasional Yahudi
pertama dan satu-satunya sepanjang sejarahnya, kerajaan Makkabi di wilayah
kecil mereka Judea. Yang merupakan buah dari
pemberontakan mereka terhadap kekuasaan bangsa Grik pada tahu 168 sM, yang
bertahan selama 105 tahun sampai tahun 63 sM. Tetapi kembali menjadi bagian
dari wilayah taklukan, yang kali ini dari Imperium Romawi yang menjajah mereka
selama 6 abad lebih (63 sM – 636 M).
Namun, sebagai agama yang melekat
pada satu suku bangsa tertentu, yaitu suku bangsa keturunan Nabi Yacub (Israil)
yang disebut bangsa Yehuda atau dikenal juga sebagai Bani Israil (anak
keturunan Israil), pada kenyataanya agama Yahudi terus saja eksis, bahkan
hingga hari ini. Adanya doktrin tentang akan datangnya Juru Selamat (Al-Masih) yang akan membebaskan mereka dari berbagai
penderitaan, telah membuat mereka tabah dan kuat di dalam menghadapi berbagai
penderitaan dan tantangan hidup. Karena itu tidaklah mengherankan jika umumnya
para pendeta Yahudi lebih banyak memanfaatkan pengetahuan agamanya untuk
mengabdi kepada para kaisar dan raja-raja yang menindas mereka di dalam
membantu para penjajah menangani rakyatnya yang beragama Yahudi, seraya
menyimpan dalam-dalam harapan akan datangnya Juru Selamat yang akan membebaskan mereka dari penindasan. Kelak
strategi semacam ini diadopsi juga oleh agama Islam sekte Syi’ah dalam prinsip
yang mereka sebut taqqiyah.
Di awal millenium (abad ke 1 M) lahirlah
seorang anak manusia dari rahim seorang wanita yang tidak bersuami bernama
Maryam, yang kemudian diberi nama Isa Al-Masih.
Ia dipersiapkan dan diutus oleh Tuhan untuk membetulkan kembali ajaran Musa
a.s. Setidaknya begitulah pandangan Islam. Sementara ummat Kristen menyebutnya Jesus Kristus, yang berarti Jesus sang
Juru Selamat. Jesus lahir dan hidup di lingkungan masyarakat Yahudi di
Palestina yang masih berada di bawah kekuasaan Imperium Romawi, di sebuah kota
kecil bernama Bethlehem namun
keluarganya menetap di kota kecil Nazareth
dalam wilayah Galilia (Palestina Utara). Orang Yahudi yang menolak ajarannya
dan enggan menyebutkan namanya, menyebut Jesus sebagai Orang Nazareth dan pengikutnya disebut Nazarenes. Kemungkinan dari situlah asal mula sebutan Nashara
(bahsa Arab) atau Nasrani (bahasa Indonesia) bagi para pengikut Isa Al-Masih
atau Jesus Kristus. Semasa hidup beliau sebutan Orang Kristen (Christians) tidak dikenal. Sebutan itu muncul
belakangan, beberapa tahun setelah wafatnya, Barnaba dan Paulus tidak
henti-hentinya menyatakan dan menegaskan bahwa Jesus itu adalah Christos (Al-Masih) yang berarti “yang
diurapi” atau “yang dinobatkan” sebagai Jurus
Selamat. Dari situlah lalu muncul sebutan Orang Kristen (Christians), yang berarti pengikut Kristus
(Christos).
Injil Synoptic (Matius, Markus, Lukas) menyebutkan lamanya masa Jesus
menyampaikan ajaran (misi) nya di
Galilia dan Judea, adalah satu tahun, yaitu satu kali
perayaan Paskah. Sementara Injil Yahya menceritakan bahwa Jesus Kristus
menyampaikan misinya dalam tiga kali perayaan Paskah, yang berarti selama tiga
tahun. Sampai sekarang tidak ada kesepakatan di antara ummat Kristen tentang
lamanya Jesus menyampaikan misinya, sebelum akhirnya ditangkap oleh tentara
Romawi atas hasutan Imam Yahudi yang menjadi pembantu gubernur Pontius Platus
di Jerussalem. Beliau akhirnya “diadili” di Jerussalem dengan tuduhan
menyebarkan ajaran agama yang bertentangan dengan agama Yahudi. Pontius Pilatus yang menjabat gubernur
Romawi untuk wilayah Judea antara 26–36 M, yang meskipun
tidak melihat adanya kesalahan Jesus berdasarkan hukum Romawi, juga tidak
menghalangi para Imam Yahudi menjatuhkan hukuman mati bagi Jesus. Begitulah,
dalam tahun 29 M, bersama dua orang penjahat tak dikenal, Jesus menjalani
hukuman matinya di tiang salib.
Setelah kematian Jesus di tiang
salib itu, semua aktivitas penyebaran ajaran Jesus boleh dibilang terhenti sama
sekali. Para pengikutnya cenderung memilih diam atau
menyembunyikan keyakinan yang mereka peroleh dari Jesus, terhadap khalayak
ramai yang umumnya masih menganut agama Yahudi. Barulah sekitar tahun 46 – 48 M
sejarah mencatat adanya pertentangan sengit antara Petrus dengan Paulus, yang sama-sama
mengaku sebagai Rasul yang mendapat mandat untuk menyebarkan ajaran Jesus di
tengan-tengah masyarakat manusia (lihat: Gal, 2:1-14). Siapakah Petrus?
Siapakah Paulus? Petrus atau sering
disebut juga Simon Petrus, adalah
salah satu murid Jesus yang pada masa beliau hidup telah menetapkan mereka
sebanyak dua belas orang untuk menjadi utusan atau Rasul (Twelve Diciples, Twelve Apostles) di dalam menyebarkan ajaran
Kristen. Kedua belas orang Rasul itu adalah: Petrus, Andreas, Yakobus Besar, Yakobus
Kecil, Yohanes, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Tadeus, Simon, dan Yudas
Iskariot. Petrus adalah yang tertua dan yang pertama sekali menerima ajaran
Jesus.
Paulus, yang nama aslinya ialah Saul
(KRR, 13:9), berasal dari bandar Tarsus
(KRR, 22:3), sebuah bandar dagang bangsa Grik yang terpandang makmur dewasa itu
dalam wilayah Kilikia di Asia Kecil. Pendatang-pendatang Yahudi yang menetap
sekian lamanya pada bandar dagang yang makmur itu telah dipengaruhi dan telah
menyerap kebudayaan Grik dan bahasa Grik, dipanggilkan Hellenistic Jews, yaitu orang-orang Yahudi yang telah menyerap
kebudayaan Hellena (Grik). [2] Beliau lahir pada tahu ke 3 Masehi.
Ketika beranjak dewasa ia dikirim orang tuanya ke Jerussalem untuk belajar
agama Yahudi. Di Jerussalem beliau belajar agama Yahudi pada sekte yang paling
fanatik, yaitu Farisi dan belakangan dia ditunjuk mengepalai “pasukan” yang
mengejar-ngejar pengikut Jesus untuk dibunuh. Tetapi dalam sebuah perjalanan ke
Damaskus untuk memburu pengikut Jesus yang melarikan diri, diyakini,
sebagaimana yang tertulis di dalam Kisah
Rasul Rasul (KRR), bahwa dirinya telah mendapat petunjuk langsung dari
Jesus Kristus dan sekaligus ditunjuk untuk menjalankan misinya sebagai Rasul
(lihat: KRR, 9:3, KRR, 22:6, KRR, 26:12).
Di awal abad ke 4 masehi,
berkembang dua ajaran keyakinan yang saling bertentangan dalam dunia Kristen;
yaitu Arianism dan Athanasianism. Disebut Arianism karena merupakan ajaran yang
diperjuangkan dan dipertahankan oleh uskup Arius
(wafat 336 M), yang menjabat sebagai Uskup Agung (Patriarch) di ibukota
imperium Roma Timur, Constantinople. Inti pokok
keyakinan yang diajarkannya adalah, bahwa Allah itu Maha Esa dan bukan dilahirkan (agennetos) dan
menciptakan segalanya dari Tiada menjadi Ada.
Jesus Kristus itu cuma makhluk biasa yang diciptakan
(genetos) tetapi menjabat Prophet of God (Rasul-Allah). Perawan Maria (Virgin
Mary) tidak layak dipanggilkan Mother of God (Ibu dari Tuhan) karena dia itu
cuma melahirkan manusia biasa. [3] Kemungkinannya ajaran ini berakar
pada ajaran Duabelas Rasul (Twelve
Diciples, Twelve Apostles) yang ditunjuk langsung oleh Jesus Kristus semasa
beliau masih hidup. Athanasianism
adalah ajaran yang diperjuangkan dan dipertahankan oleh Bishop Athanasius (293-373 M), yang menjabat
Bishop (Uskup) pada bandar Alexandria, Egypte, bandar dagang yang makmur dewasa
itu dan pusat filsafat Neoplatonism. Inti pokok keyakinan yang diajarkan, bahwa
Allah itu Maha Esa akan tetapi terdiri atas tiga oknum yaitu Allah-Bapa dan
Allah-Anak dan Allah-Rohulkudus. Jesus Kristus beserta Rohulkudus itu bersamaan zat (homo-ousios) dengan zat
Allah-Bapak. Bishop Athanasius itu mempertahankan pokok-pokok keyakinan yang
diajarkan Paulus, seperti termuat di dalam Himpunan
Surat-surat Paulus. [4]
Gaius Flavius Valerius
Aurelius Constantinus (311-337 M) atau lebih seringnya disebut Constantine the Great atau Konstantin I, adalah kaisar Roma yang
pertama-tama memeluk agama Kristen dan lalu mengumumkan agama Kristen itu
adalah agama-resmi dalam wilayah imperium Roma, menggantikan Paganism. Paganism adalah kepercayaan dan pemujaan terhadap dewa-dewa dan
dewi-dewi menurut mitologi Grik dan Roma. Sehingga dengan begitu maka
berakhirlah semua penganiayaan dan penindasan terhadap penganut-penganut agama
Kristen di seluruh wilayah imperium Roma, sebagaimana selalu mereka derita pada
masa pemerintahan kaisar-kaisar Roma sebelumnya. Tetapi segera saja Konstantin
dihadapkan pada kenyataan bahwa ajaran agama Kristen itu tidak hanya satu. Ada dua, dan saling bertentangan secara
substansial antara satu dengan lainnya. Hal itu membuatnya bingung dan
mengganggu bagi kepuasan kerohaniannya; karena baginya tidak mungkin ada dua jenis keyakinan dalam satu agama.
Kondisi itu mendorongnya untuk menganjurkan para Bishop (Uskup) untuk berkumpul
dan bermusyawarah untuk menetapkan mana ajaran yang lebih benar, antara yang
satu terhadap lainnya. Pada tahun 325 M berkumpullah para Bishop dari seluruh
wilayah imperium Roma, pada sebuah kota-benteng dekat ibukota Constantinople,
di pinggir selat Bosporus dalam wilayah Asia Kecil, bernama Nicae. Peristiwa
itu di dalam sejarah agama Kristen disebut sebagai Konsili Pertama atau lebih
dikenal dengan sebutan Konsili Nicae. Sejak itu pula konsili menjadi instrumen penting dalam
tradisi agama Kristen, yang berarti sidang pimpinan gereja sedunia guna
membicarakan masalah-masalah aktual dan fundamental dalam agama Kristen.
Perdebatan dalam sidang itu berlangsung seru dan sengit, khususnya pada
bagian yang membahas pokok-pokok perbedaan Arianism
dan Athanasianism. Dalil beradu dalil,
argumen beradu argumen, tak ada pihak yang mau mengalah. Konon perdebatan sudah
menghabiskan waktu hampir dua bulan, tidak juga ada keputusan ajaran mana yang
lebih benar untuk ditetapkan sebagai satu-satunya ajaran yang berlaku dalam
agama Kristen. Kaisar Contantine pun akhirnya muak menghadapi kondisi itu dan
menganjurkan diadakan pemungutan suara
(voting) saja. Ajaran Arianism yang
dikenal sangat konfrontatif terhadap agama Yahudi yang sudah mapan, namun
memiliki dalil dan argumen yang sangat kuat – boleh jadi karena merupakan
ajaran yang bersumber dari keduabelas murid/Rasul (Twelve Diciples, Twelve Apostles) yang memang pernah bertemu langsung dengan Jesus Kristus, ternyata hanya
memiliki sedikit saja pendukungnya. Sementara ajaran Athanasianism yang lebih akomodatif terhadap agama Yahudi, yang
sumber utamanya adalah Rasul Paulus – boleh jadi karena Paulus sendiri
sebelumnya adalah seorang penganut agama Yahudi yang fanatik dan pernah belajar
filsafat Stoa, memiliki pendukung yang lebih banyak (mengenai pengaruh filsafat
Stoa di dalam ajaran Paulus diterangkan juga di dalam kitab Perjanjian Baru,
bab Pengantar Surat-surat Paulus).
Akhirnya, berdasarkan hasil pemungutan
suara (voting) ditetapkanlah ajaran Athanasianism
sebagai ajaran resmi yang berlaku dalam agama Kristen di seluruh wilayah
imperium Roma. Sehingga dengan begitu ajaran Arianism dianggap sesat atau bid’at (heresy) dan semua literatur yang
menjadi landasan ajarannya, dirampas dan dimusnahkan. Termasuk injil-injil yang
menjadi pegangan mereka. Konsili Nicae juga menetapkan empat buah injil
(Matius, Markus, Lukas dan Yahya) sebagai Kitab
Suci yang Sah (Canonical Books). Penganut Arianism dipaksa meninggalkan keyakinannya dengan “bertaubat” dan
diwajibkan menganut Athanasianism.
Uskup Arius yang menolak “taubat” itu, akhirnya dijebloskan ke penjara bawah
tanah. Tetapi adalah uskup Eusebius of Nicomedia, penganut Arianism yang fanatik, yang semula
menerima “taubat” itu dan ikut menandatangani persetujuan tentang Keyakinan-Resmi dalam agama Kristen,
belakangan berbalik ke keyakinan Arianism
dan berhasil meyakinkan kaisar Constantine akan kebenaran ajaran Arianism. Kaisar Contantine pun kemudian
membalikkan keadaan dari hasil Konsili Nicae, yaitu dengan menjadikan Arianism sebagai ajaran resmi dan
memulihkan kedudukan Uskup Arius, pada tahun 331 M. Tetapi pada saat kaisar Theodosius
berkuasa (379-395 M), Keyakinan Resmi
dikembalikan lagi sesuai keputusan Konsili Nicae. Dan para penganut agama
Kristen yang hidup di zaman sekarang sepertinya enggan mengungkit-ngungkit lagi
pertentangan yang terjadi pada zaman itu.
_____________
[2] Joesoef Sou’yb,– “Agama-Agama Besar Dunia”, Pustaka
Al-Husna, Jakarta, hlm 324-325
[2] Ibid, hlm
340
[3] Loc cit
[4] Lembaga Biblika Indonesia
- "Kitab Suci Perjanjian Baru" (La
Bible de Jerusalem, Paris, 1973), Terjemahan Lembaga Biblika Indonesia,
Penerbit Ditjen Bimas Katolik Departemen Agama RI, 1978/1979, hlm. 340

Tidak ada komentar:
Posting Komentar