Sabtu, 23 Mei 2015

Injil dan Penetapan Konsili Nicae

Piagam Konsili Nicae
Sebelum filsafat, sebetulnya ada lagi corak berpikir lain yang mempengaruhi peradaban manusia. Yaitu agama. Agama tertua yang sempat dikenali oleh sejarah adalah agama Brahma, yang kelak bermetamorfosis menjadi agama Hindu. Agama Brahma diperkirakan sudah ada sejak 2000 tahun sebelum Masehi, yang menurut literatur pihak Yahudi, masa itu adalah kira-kira sama dengan masa hidup Abraham (Islam: Nabi Ibrahim). Tetapi berbeda dengan ketiga agama wahyu lainnya (Yahudi, Kristen dan Islam), agama Brahma/Hindu mengajarkan bahwa asal kejadian alam semesta bukanlah diciptakan oleh Allah Yang Esa, melainkan merupakan pancaran dari zat Brahman sendiri. Dengan kata lain, agama Brahma/Hindu tidak mengakui adanya penciptaan oleh Tuhan. Karena itu agama Brahma/Hindu tidak akan terlalu banyak dibahas di dalam studi ini.
Musa (Islam: Nabi Musa a.s.) diperkirakan hidup antra 1300 -1200 sebelum Masehi, di Semenanjung Sinai, Mesir. Musa mengajarkan kepada manusia bahwa yang berkuasa atas diri mereka bukanlah para penguasa duniawi (Fir’aun), tetapi yang berkuasa atas diri manusia adalah Allah Yang Maha Esa. Di dalam agama Yahudi disebut Yahweh atau Yehuwa. Secara garis besar keseluruhan ajaran Musa berkisar pada apa disebut di dalam Al-Kitab (Perjanjian Lama) sebagai Sepuluh Perintah Allah (ten commandements): 1. Akulah TUHAN, Allahmu ... Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.  2. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun ...3. Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan ... 4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat ... 5. Hormatilah ayahmu dan ibumu ... 6. Jangan membunuh… 7. Jangan berzinah… 8. Jangan mencuri... 9. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu…10. Jangan mengingini rumah sesamamu ... (Jangan mengingini milik sesamamu). Inilah inti dari apa yang oleh sejarah agama-agama disebut sebagai syari’at Musa atau hukum agama (Yahudi). Ummat Yahudi dikenal sebagai ummat yang menerapkan syari’at agamanya secara ketat.
Ummat Yahudi meyakini bahwa semua yang tertulis dalam kitab Torah (Taurat Musa), salah satu dari tiga kitab suci agama Yahudi, adalah langsung dari lisan Nabi Musa. Tetapi para ahli sejarah, utamanya sarjana-sarjana Bible (Biblical Scholars) meragukan hal itu. Torah, yakni Taurat Musa, yang terdiri atas lima buah kitab, di dalam masa berabad-abad lamanya diajarkan secara turun temurun dari mulut ke mulut, terutama dalam kalangan para Imam dan para Rabbi, hingga sifatnya adalah Oral Torah (Taurat Lisan).  Pemikiran ke arah penyusunan Torah itu timbul buat pertama kalinya pada diri Nabi Ezra (salah seorang Nabi di kalangan agama Yahudi, setelah Musa) yang hidup sekitar tahun 460 sebelum Masehi. Jadi ada masa sekitar kurang lebih 800 tahun (8 abad) lamanya, atau kurang lebih antara 10 sampai 15 generasi hidup manusia, Torah berstatus kitab yang lisan. Sulitlah membayangkan suatu kitab suci dapat utuh terwariskan hanya dari mulut ke mulut, tanpa mengalami distorsi, dalam jangka waktu yang begitu lama dan generasi yang berbeda-beda.
Agama Yahudi sepanjang sejarahnya memang tidak pernah mengalami kejayaan sebagai agama yang secara masive dianut oleh satu kelompok atau masyarakat pada zaman manapun, sehingga layak disebut sebagai sebuah peradaban yang berlatar belakang agama. Bahkan berbagai penindasan dari penguasa dunia seringkali menimpa mereka untuk waktu yang lama dan sering terjadi dalam waktu yang berbeda-beda, mereka harus hidup secara berpencar tanpa wilayah yang dapat diklaim sebagai tanah air tradisional mereka (diaspora). Negeri mereka Judea (Kanaan) senantiasa berada dan menjadi bagian dari penaklukan kerajaan-kerajaan besar, seperti raja Saragon II (722-705 sM) dari Assyria dan juga raja Nebukhadnezar (605-561 sM) dari Babilonia. Mengalami sedikit kelonggaran tekanan ketika wilayah mereka menjadi taklukan Cyrus the Great (550-530 sM) dari Persia. Tetapi kembali dalam penindasan di bawah penaklukan Alexander the Great dari Makedonia, yang disusul oleh dinasti Saelucids (305-168 sM) dari Grik/Yunani. Pernah mendirikan kerajaan nasional Yahudi pertama dan satu-satunya sepanjang sejarahnya, kerajaan Makkabi di wilayah kecil mereka Judea. Yang merupakan buah dari pemberontakan mereka terhadap kekuasaan bangsa Grik pada tahu 168 sM, yang bertahan selama 105 tahun sampai tahun 63 sM. Tetapi kembali menjadi bagian dari wilayah taklukan, yang kali ini dari Imperium Romawi yang menjajah mereka selama 6 abad lebih (63 sM – 636 M).
Namun, sebagai agama yang melekat pada satu suku bangsa tertentu, yaitu suku bangsa keturunan Nabi Yacub (Israil) yang disebut bangsa Yehuda atau dikenal juga sebagai Bani Israil (anak keturunan Israil), pada kenyataanya agama Yahudi terus saja eksis, bahkan hingga hari ini. Adanya doktrin tentang akan datangnya Juru Selamat (Al-Masih) yang akan membebaskan mereka dari berbagai penderitaan, telah membuat mereka tabah dan kuat di dalam menghadapi berbagai penderitaan dan tantangan hidup. Karena itu tidaklah mengherankan jika umumnya para pendeta Yahudi lebih banyak memanfaatkan pengetahuan agamanya untuk mengabdi kepada para kaisar dan raja-raja yang menindas mereka di dalam membantu para penjajah menangani rakyatnya yang beragama Yahudi, seraya menyimpan dalam-dalam harapan akan datangnya Juru Selamat yang akan membebaskan mereka dari penindasan. Kelak strategi semacam ini diadopsi juga oleh agama Islam sekte Syi’ah dalam prinsip yang mereka sebut taqqiyah.
Di awal millenium (abad ke 1 M) lahirlah seorang anak manusia dari rahim seorang wanita yang tidak bersuami bernama Maryam, yang kemudian diberi nama Isa Al-Masih. Ia dipersiapkan dan diutus oleh Tuhan untuk membetulkan kembali ajaran Musa a.s. Setidaknya begitulah pandangan Islam. Sementara ummat Kristen menyebutnya Jesus Kristus, yang berarti Jesus sang Juru Selamat. Jesus lahir dan hidup di lingkungan masyarakat Yahudi di Palestina yang masih berada di bawah kekuasaan Imperium Romawi, di sebuah kota kecil bernama Bethlehem namun keluarganya menetap di kota kecil Nazareth dalam wilayah Galilia (Palestina Utara). Orang Yahudi yang menolak ajarannya dan enggan menyebutkan namanya, menyebut Jesus sebagai Orang Nazareth dan pengikutnya disebut Nazarenes. Kemungkinan dari situlah asal mula sebutan Nashara (bahsa Arab) atau Nasrani (bahasa Indonesia) bagi para pengikut Isa Al-Masih atau Jesus Kristus. Semasa hidup beliau sebutan Orang Kristen (Christians) tidak dikenal. Sebutan itu muncul belakangan, beberapa tahun setelah wafatnya, Barnaba dan Paulus tidak henti-hentinya menyatakan dan menegaskan bahwa Jesus itu adalah Christos (Al-Masih) yang berarti “yang diurapi” atau “yang dinobatkan” sebagai Jurus Selamat. Dari situlah lalu muncul sebutan Orang Kristen (Christians), yang berarti pengikut Kristus (Christos).
Injil Synoptic (Matius, Markus, Lukas) menyebutkan lamanya masa Jesus menyampaikan ajaran (misi) nya di Galilia dan Judea, adalah satu tahun, yaitu satu kali perayaan Paskah. Sementara Injil Yahya menceritakan bahwa Jesus Kristus menyampaikan misinya dalam tiga kali perayaan Paskah, yang berarti selama tiga tahun. Sampai sekarang tidak ada kesepakatan di antara ummat Kristen tentang lamanya Jesus menyampaikan misinya, sebelum akhirnya ditangkap oleh tentara Romawi atas hasutan Imam Yahudi yang menjadi pembantu gubernur Pontius Platus di Jerussalem. Beliau akhirnya “diadili” di Jerussalem dengan tuduhan menyebarkan ajaran agama yang bertentangan dengan agama Yahudi. Pontius Pilatus yang menjabat gubernur Romawi untuk wilayah Judea antara 26–36 M, yang meskipun tidak melihat adanya kesalahan Jesus berdasarkan hukum Romawi, juga tidak menghalangi para Imam Yahudi menjatuhkan hukuman mati bagi Jesus. Begitulah, dalam tahun 29 M, bersama dua orang penjahat tak dikenal, Jesus menjalani hukuman matinya di tiang salib.
Setelah kematian Jesus di tiang salib itu, semua aktivitas penyebaran ajaran Jesus boleh dibilang terhenti sama sekali. Para pengikutnya cenderung memilih diam atau menyembunyikan keyakinan yang mereka peroleh dari Jesus, terhadap khalayak ramai yang umumnya masih menganut agama Yahudi. Barulah sekitar tahun 46 – 48 M sejarah mencatat adanya pertentangan sengit antara Petrus dengan Paulus, yang sama-sama mengaku sebagai Rasul yang mendapat mandat untuk menyebarkan ajaran Jesus di tengan-tengah masyarakat manusia (lihat: Gal, 2:1-14). Siapakah Petrus? Siapakah Paulus? Petrus atau sering disebut juga Simon Petrus, adalah salah satu murid Jesus yang pada masa beliau hidup telah menetapkan mereka sebanyak dua belas orang untuk menjadi utusan atau Rasul (Twelve Diciples, Twelve Apostles) di dalam menyebarkan ajaran Kristen. Kedua belas orang Rasul itu adalah: Petrus, Andreas, Yakobus Besar, Yakobus Kecil, Yohanes, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Tadeus, Simon, dan Yudas Iskariot. Petrus adalah yang tertua dan yang pertama sekali menerima ajaran Jesus.
Paulus, yang nama aslinya ialah Saul (KRR, 13:9), berasal dari bandar Tarsus (KRR, 22:3), sebuah bandar dagang bangsa Grik yang terpandang makmur dewasa itu dalam wilayah Kilikia di Asia Kecil. Pendatang-pendatang Yahudi yang menetap sekian lamanya pada bandar dagang yang makmur itu telah dipengaruhi dan telah menyerap kebudayaan Grik dan bahasa Grik, dipanggilkan Hellenistic Jews, yaitu orang-orang Yahudi yang telah menyerap kebudayaan Hellena (Grik). [2] Beliau lahir pada tahu ke 3 Masehi. Ketika beranjak dewasa ia dikirim orang tuanya ke Jerussalem untuk belajar agama Yahudi. Di Jerussalem beliau belajar agama Yahudi pada sekte yang paling fanatik, yaitu Farisi dan belakangan dia ditunjuk mengepalai “pasukan” yang mengejar-ngejar pengikut Jesus untuk dibunuh. Tetapi dalam sebuah perjalanan ke Damaskus untuk memburu pengikut Jesus yang melarikan diri, diyakini, sebagaimana yang tertulis di dalam Kisah Rasul Rasul (KRR), bahwa dirinya telah mendapat petunjuk langsung dari Jesus Kristus dan sekaligus ditunjuk untuk menjalankan misinya sebagai Rasul (lihat: KRR, 9:3, KRR, 22:6, KRR, 26:12).
Di awal abad ke 4 masehi, berkembang dua ajaran keyakinan yang saling bertentangan dalam dunia Kristen; yaitu Arianism dan Athanasianism. Disebut Arianism karena merupakan ajaran yang diperjuangkan dan dipertahankan oleh uskup Arius (wafat 336 M), yang menjabat sebagai Uskup Agung (Patriarch) di ibukota imperium Roma Timur, Constantinople. Inti pokok keyakinan yang diajarkannya adalah, bahwa Allah itu Maha Esa dan bukan dilahirkan (agennetos) dan menciptakan segalanya dari Tiada menjadi Ada. Jesus Kristus itu cuma makhluk biasa yang diciptakan (genetos) tetapi menjabat Prophet of God (Rasul-Allah). Perawan Maria (Virgin Mary) tidak layak dipanggilkan Mother of God (Ibu dari Tuhan) karena dia itu cuma melahirkan manusia biasa. [3] Kemungkinannya ajaran ini berakar pada ajaran Duabelas Rasul (Twelve Diciples, Twelve Apostles) yang ditunjuk langsung oleh Jesus Kristus semasa beliau masih hidup. Athanasianism adalah ajaran yang diperjuangkan dan dipertahankan oleh Bishop Athanasius (293-373 M), yang menjabat Bishop (Uskup) pada bandar Alexandria, Egypte, bandar dagang yang makmur dewasa itu dan pusat filsafat Neoplatonism. Inti pokok keyakinan yang diajarkan, bahwa Allah itu Maha Esa akan tetapi terdiri atas tiga oknum yaitu Allah-Bapa dan Allah-Anak dan Allah-Rohulkudus. Jesus Kristus beserta Rohulkudus itu bersamaan zat (homo-ousios) dengan zat Allah-Bapak. Bishop Athanasius itu mempertahankan pokok-pokok keyakinan yang diajarkan Paulus, seperti termuat di dalam Himpunan Surat-surat Paulus. [4]
Gaius Flavius Valerius Aurelius Constantinus (311-337 M) atau lebih seringnya disebut Constantine the Great atau Konstantin I, adalah kaisar Roma yang pertama-tama memeluk agama Kristen dan lalu mengumumkan agama Kristen itu adalah agama-resmi dalam wilayah imperium Roma, menggantikan Paganism. Paganism adalah kepercayaan dan pemujaan terhadap dewa-dewa dan dewi-dewi menurut mitologi Grik dan Roma. Sehingga dengan begitu maka berakhirlah semua penganiayaan dan penindasan terhadap penganut-penganut agama Kristen di seluruh wilayah imperium Roma, sebagaimana selalu mereka derita pada masa pemerintahan kaisar-kaisar Roma sebelumnya. Tetapi segera saja Konstantin dihadapkan pada kenyataan bahwa ajaran agama Kristen itu tidak hanya satu. Ada dua, dan saling bertentangan secara substansial antara satu dengan lainnya. Hal itu membuatnya bingung dan mengganggu bagi kepuasan kerohaniannya; karena baginya tidak mungkin ada dua jenis keyakinan dalam satu agama. Kondisi itu mendorongnya untuk menganjurkan para Bishop (Uskup) untuk berkumpul dan bermusyawarah untuk menetapkan mana ajaran yang lebih benar, antara yang satu terhadap lainnya. Pada tahun 325 M berkumpullah para Bishop dari seluruh wilayah imperium Roma, pada sebuah kota-benteng dekat ibukota Constantinople, di pinggir selat Bosporus dalam wilayah Asia Kecil, bernama Nicae. Peristiwa itu di dalam sejarah agama Kristen disebut sebagai Konsili Pertama atau lebih dikenal dengan sebutan Konsili Nicae. Sejak itu pula konsili menjadi instrumen penting dalam tradisi agama Kristen, yang berarti sidang pimpinan gereja sedunia guna membicarakan masalah-masalah aktual dan fundamental dalam agama Kristen.
Perdebatan dalam sidang itu berlangsung seru dan sengit, khususnya pada bagian yang membahas pokok-pokok perbedaan Arianism dan Athanasianism. Dalil beradu dalil, argumen beradu argumen, tak ada pihak yang mau mengalah. Konon perdebatan sudah menghabiskan waktu hampir dua bulan, tidak juga ada keputusan ajaran mana yang lebih benar untuk ditetapkan sebagai satu-satunya ajaran yang berlaku dalam agama Kristen. Kaisar Contantine pun akhirnya muak menghadapi kondisi itu dan menganjurkan diadakan pemungutan suara (voting) saja. Ajaran Arianism yang dikenal sangat konfrontatif terhadap agama Yahudi yang sudah mapan, namun memiliki dalil dan argumen yang sangat kuat – boleh jadi karena merupakan ajaran yang bersumber dari keduabelas murid/Rasul (Twelve Diciples, Twelve Apostles) yang memang pernah bertemu langsung dengan Jesus Kristus, ternyata hanya memiliki sedikit saja pendukungnya. Sementara ajaran Athanasianism yang lebih akomodatif terhadap agama Yahudi, yang sumber utamanya adalah Rasul Paulus – boleh jadi karena Paulus sendiri sebelumnya adalah seorang penganut agama Yahudi yang fanatik dan pernah belajar filsafat Stoa, memiliki pendukung yang lebih banyak (mengenai pengaruh filsafat Stoa di dalam ajaran Paulus diterangkan juga di dalam kitab Perjanjian Baru, bab Pengantar Surat-surat Paulus).
Akhirnya, berdasarkan hasil pemungutan suara (voting) ditetapkanlah ajaran Athanasianism sebagai ajaran resmi yang berlaku dalam agama Kristen di seluruh wilayah imperium Roma. Sehingga dengan begitu ajaran Arianism dianggap sesat atau bid’at (heresy) dan semua literatur yang menjadi landasan ajarannya, dirampas dan dimusnahkan. Termasuk injil-injil yang menjadi pegangan mereka. Konsili Nicae juga menetapkan empat buah injil (Matius, Markus, Lukas dan Yahya) sebagai Kitab Suci yang Sah (Canonical Books). Penganut Arianism dipaksa meninggalkan keyakinannya dengan “bertaubat” dan diwajibkan menganut Athanasianism. Uskup Arius yang menolak “taubat” itu, akhirnya dijebloskan ke penjara bawah tanah. Tetapi adalah uskup Eusebius of Nicomedia, penganut Arianism yang fanatik, yang semula menerima “taubat” itu dan ikut menandatangani persetujuan tentang Keyakinan-Resmi dalam agama Kristen, belakangan berbalik ke keyakinan Arianism dan berhasil meyakinkan kaisar Constantine akan kebenaran ajaran Arianism. Kaisar Contantine pun kemudian membalikkan keadaan dari hasil Konsili Nicae, yaitu dengan menjadikan Arianism sebagai ajaran resmi dan memulihkan kedudukan Uskup Arius, pada tahun 331 M. Tetapi pada saat kaisar Theodosius berkuasa (379-395 M), Keyakinan Resmi dikembalikan lagi sesuai keputusan Konsili Nicae. Dan para penganut agama Kristen yang hidup di zaman sekarang sepertinya enggan mengungkit-ngungkit lagi pertentangan yang terjadi pada zaman itu.

_____________


[2] Joesoef Sou’yb,– “Agama-Agama Besar Dunia”, Pustaka Al-Husna, Jakarta, hlm 324-325
[2] Ibid, hlm 340
[3] Loc cit
[4] Lembaga Biblika Indonesia - "Kitab Suci Perjanjian Baru" (La Bible de Jerusalem, Paris, 1973), Terjemahan Lembaga Biblika Indonesia, Penerbit Ditjen Bimas Katolik Departemen Agama RI, 1978/1979, hlm. 340

Tidak ada komentar:

Posting Komentar