Setiap zaman punya penandanya
sendiri-sendiri. Ada zaman yang
disebut zaman batu, misalnya. Ditandai oleh pola hidup manusia yang berpusat
pada batu. Hidup dan bertempat tinggal di sekitar batu (goa), menggunakan alat-alat
untuk mengatasi problem kehidupannya yang dibuat dari batu yang dibentuk
(pisau, kampak, tombak, dll). Zaman batu adalah bagian dari apa yang disebut
zaman Pra-Sejarah. Disebut begitu karena inilah zaman yang hanya ditandai oleh
cara-cara manusia hidup dan mempertahankan hidup, melalui temuan-temuan
arkeologis terhadap alat-alat dan lingkungan mereka hidup. Tidak ada kisah tentang kehidupan mereka sendiri
yang ditulis manusia pada zaman itu yang dapat menjadi kajian sejarah bagi
manusia zaman berikutnya, karena memang masa itu belum ada tradisi dan alat
untuk tulis menulis. Secara umum masa prasejarah ini ditinjau dari dua aspek
saja, yaitu bedasarkan bahan yang dipakai untuk membuat alat-alatnya (terbagi
menjadi Zaman Batu dan Zaman Besi), dan yang kedua bedasarkan kemampuan yang
dimiliki oleh masyarakatnya dalam cara memenuhi kebutuhan hidup mereka (terbagi
menjadi Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan, Masa Bercocok Tanam dan Masa
Pertukangan). Secara kelimuan diketahui kapan bermulanya zaman ini tetapi
diyakini zaman ini berakhir dengan ditemukannya peradaban manusia tertua,
sekitar 4000 tahun sebelum Masehi, di lembah Mesopotamia, Mesir.
Disamping adanya ciri-ciri
seperti itu yang menjadikan zaman itu dikenali oleh sejarah, ada juga ciri
lain; yaitu corak pemikiran masyarakatnya. Untuk itu kita mengenal zaman Helena,
yaitu zaman dimana filsafat mulai ditemukan. Helena
adalah nama lain atau sebutan bagi peradaban Yunani kuno (700-400 sM). Jauh sebelum
ditemukannya filsafat, masyarakat Yunani kuno percaya kepada mitos-mitos (mitologi)
yang membentuk corak berpikir mereka. Lalu muncullah Thales (624-545 sM), Anaximander
(610-546 sM), Phitagoras (582-496
sM), dllnya, yang mempertanyakan azas paling hakiki dari keberadaan alam
semesta yang sama sekali berbeda corak mitologi yang irrasional. Sejak itu pula
corak berpikir manusia dipengaruhi oleh filsafat. Phitagoras dikenal sebagai
orang yang pertama sekali menggunakan istilah filsafat (berasal dari bahasa Yunani “philos” = cinta dan “sophia”
= kebijaksanaan/hikmah). Yaitu ketika dia ditanya kaum sophis “apakah Anda termasuk yang bijaksana (sophis)?”, yang dijawab oleh Phitagoras “saya hanya seorang
philosophos (cinta
kebijaksanaan/hikmah)”. [1] Kaum sophis
adalah kaum yang dikenal di dalam sejarah filsafat sebagai kaum yang mengajarkan
keterampilan berdebat yang menggunakan ilmu logika, yang dengan itu mereka
mendapatkan imbalan materi.
Puncak kejayaan corak berpikir
manusia yang dipengaruhi oleh filsafat ditandai oleh kuatnya pengaruh tiga
filsuf besar zaman itu, yaitu Socrates
(470-399 sM), Plato (427-347 sM) dan
Aristoteles (384-322 sM). Plato
adalah murid Socrates, Arsitoteles adalah murid Plato. Pada masa hidup mereka
bertiga, bidang kajian filsafat sudah semakin luas. Tidak lagi berbicara soal
alam semesta dan isinya, tetapi juga menyangkut ke soal-soal hakekat “yang ada”
(ontologi) dan juga soal “Yang Ada” dibalik yang ada, yaitu metafisika atau ada
yang transenden. Pada tahap ini
semestinya ada “pertemuan” antara filsafat dengan agama. Sayangnya, speninggal Alexander yang Agung (Alexandre the Great), penguasa Imperium
Makedonia yang sempat menguasai hampir separoh muka bumi, yang nota bene adalah
juga murid Aristoteles; mengalami perpecahan yang hebat dan menjadi
kerajaan-kerajaan kecil yang tidak kuat. Di mana hal ini sekaligus berdampak
pada mundurnya pengaruh filsafat di dalam membentuk corak berpikir manusia. Apa
artinya itu? Mundurnya akal sehat pada diri manusia secara otomatis memajukan
peranan hawa nafsu di dalam membentuk tindakan dan prilaku manusia dan kebudayaanya.
___________
___________
[1] Ali Maksum, – “Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik
Hingga Postmodernisme”, Ar-Ruzz Media, Yogyakarta, hlm.
16
Tidak ada komentar:
Posting Komentar