Sabtu, 23 Mei 2015

PENDAHULUAN

Setiap zaman punya penandanya sendiri-sendiri. Ada zaman yang disebut zaman batu, misalnya. Ditandai oleh pola hidup manusia yang berpusat pada batu. Hidup dan bertempat tinggal di sekitar batu (goa), menggunakan alat-alat untuk mengatasi problem kehidupannya yang dibuat dari batu yang dibentuk (pisau, kampak, tombak, dll). Zaman batu adalah bagian dari apa yang disebut zaman Pra-Sejarah. Disebut begitu karena inilah zaman yang hanya ditandai oleh cara-cara manusia hidup dan mempertahankan hidup, melalui temuan-temuan arkeologis terhadap alat-alat dan lingkungan mereka hidup. Tidak ada kisah tentang kehidupan mereka sendiri yang ditulis manusia pada zaman itu yang dapat menjadi kajian sejarah bagi manusia zaman berikutnya, karena memang masa itu belum ada tradisi dan alat untuk tulis menulis. Secara umum masa prasejarah ini ditinjau dari dua aspek saja, yaitu bedasarkan bahan yang dipakai untuk membuat alat-alatnya (terbagi menjadi Zaman Batu dan Zaman Besi), dan yang kedua bedasarkan kemampuan yang dimiliki oleh masyarakatnya dalam cara memenuhi kebutuhan hidup mereka (terbagi menjadi Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan, Masa Bercocok Tanam dan Masa Pertukangan). Secara kelimuan diketahui kapan bermulanya zaman ini tetapi diyakini zaman ini berakhir dengan ditemukannya peradaban manusia tertua, sekitar 4000 tahun sebelum Masehi, di lembah Mesopotamia, Mesir.
Disamping adanya ciri-ciri seperti itu yang menjadikan zaman itu dikenali oleh sejarah, ada juga ciri lain; yaitu corak pemikiran masyarakatnya. Untuk itu kita mengenal zaman Helena, yaitu zaman dimana filsafat mulai ditemukan. Helena adalah nama lain atau sebutan bagi peradaban Yunani kuno (700-400 sM). Jauh sebelum ditemukannya filsafat, masyarakat Yunani kuno percaya kepada mitos-mitos (mitologi) yang membentuk corak berpikir mereka. Lalu muncullah Thales (624-545 sM), Anaximander (610-546 sM), Phitagoras (582-496 sM), dllnya, yang mempertanyakan azas paling hakiki dari keberadaan alam semesta yang sama sekali berbeda corak mitologi yang irrasional. Sejak itu pula corak berpikir manusia dipengaruhi oleh filsafat. Phitagoras dikenal sebagai orang yang pertama sekali menggunakan istilah filsafat (berasal dari bahasa Yunani “philos” = cinta dan “sophia” = kebijaksanaan/hikmah). Yaitu ketika dia ditanya kaum sophis “apakah Anda termasuk yang bijaksana (sophis)?”, yang dijawab oleh Phitagoras “saya hanya seorang philosophos (cinta kebijaksanaan/hikmah)”. [1] Kaum sophis adalah kaum yang dikenal di dalam sejarah filsafat sebagai kaum yang mengajarkan keterampilan berdebat yang menggunakan ilmu logika, yang dengan itu mereka mendapatkan imbalan materi.
Puncak kejayaan corak berpikir manusia yang dipengaruhi oleh filsafat ditandai oleh kuatnya pengaruh tiga filsuf besar zaman itu, yaitu Socrates (470-399 sM), Plato (427-347 sM) dan Aristoteles (384-322 sM). Plato adalah murid Socrates, Arsitoteles adalah murid Plato. Pada masa hidup mereka bertiga, bidang kajian filsafat sudah semakin luas. Tidak lagi berbicara soal alam semesta dan isinya, tetapi juga menyangkut ke soal-soal hakekat “yang ada” (ontologi) dan juga soal “Yang Ada” dibalik yang ada, yaitu metafisika atau ada yang transenden. Pada tahap ini semestinya ada “pertemuan” antara filsafat dengan agama. Sayangnya, speninggal Alexander yang Agung (Alexandre the Great), penguasa Imperium Makedonia yang sempat menguasai hampir separoh muka bumi, yang nota bene adalah juga murid Aristoteles; mengalami perpecahan yang hebat dan menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang tidak kuat. Di mana hal ini sekaligus berdampak pada mundurnya pengaruh filsafat di dalam membentuk corak berpikir manusia. Apa artinya itu? Mundurnya akal sehat pada diri manusia secara otomatis memajukan peranan hawa nafsu di dalam membentuk tindakan dan prilaku manusia dan kebudayaanya.

___________




[1] Ali Maksum, – “Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme”, Ar-Ruzz Media, Yogyakarta, hlm. 16

Tidak ada komentar:

Posting Komentar