Minggu, 24 Mei 2015

Tantangan Bagi Khalifah Ali ibn Abithalib dan Kulitas Masyarakat Yang Menurun



Penyelenggaraan jenazah dan pemakaman Khalifah Utsman ibn Affan berlangsung singkat saja, mengingat situasi yang genting di ibukota Madinah. Berbeda dengan dua pendahulunya Abubakar Ash-Shiddieq dan Umar ibn Khattab, Utsman ibn Affan tidak punya kesempatan untuk menetapkan atau mewasiatkan tentang bagaimana cara Masyarakat Madinah memperoleh penggantinya jika dirinya wafat. Usai pemakaman Khalifah Utsman di pemakaman Al-Baqi, entah siapa yang menggerakkan warga Masyarakat Madinah sudah berbondong-bondong mendatangi rumah kediaman Ali ibn Abithalib, yang kesemuanya meminta kesediaannya menggantikan Ustman ibn Affan sebagai Khalifah. Di antara mereka terdapat juga anggota-anggota pasukan dari Mesir, Kuffah dan Basrah yang menyatu dengan penduduk kota Madinah. Semula Ali berusaha menolak tuntutan warga tersebut, mengingat konflik sosial yang sudah sedemikian buruk dan merasa tidak akan mampu mengatasinya. Namun warga tidak hendak surut dari tuntutan mereka, karena mereka memang tidak melihat ada orang lain yang lebih layak selain dari pada Ali ibn Abithalib menjadi Khalifah menggantikan Utsman ibn Affan. Akhirnya Ali mengalah dan segera saja warga menggiringnya ke Masjid Nabawi untuk di-bai’at secara lebih luas lagi oleh warga Masyarakat Madinah.

Thulhah ibn Ubaidullah dan Zubair ibn Awwam, konon mem-bai’at Ali dengan agak terpaksa. Kedua mereka ini adalah dua dari tiga orang calon yang mengundurkan diri bersama Abdurrahman ibn Auff (saat kejadian ini berlangsung, sudah lebih dahulu wafat) sebagai calon, pada saat Umar ibn Khattab menunjuk enam orang calon yang akan menggantikan jika dirinya wafat. Untuk mem-bai’at Ali ibn Abitahlib sebagai Khalifah, mereka mengajukan syarat bahwa sebagai Khalifah nantinya Ali akan menegakkan keadilan terhadap pembunuh Khalifah Utsman. Sebuah bibit perpecahan baru sudah ditanamkan lagi di antara para shahabat utama, yang kelak mewujud dalam situasi yang tidak kalah tragisnya dengan pembunuhan Khalifah Utsman ibn Affan itu sendiri.

Bukannya Khalifah Ali ibn Abithalib tidak bersedia mendahulukan penyelidikan terhadap pembunuhan atas diri Utsman ibn Affan, namun fakta politik yang timbul akibat nepotisme yang diterapkan pada masa pemerintahan Utsman – yang sepertinya tidak mampu dilihat oleh para shahabat yang lain, memaksanya untuk berjuang sendirian menghadapi itu. Dari 20 wilayah kewalian (propinsi) yang berada dibawah kekuasaan Islam, hanya satu saja yang bukan dari keluarga Bani Umayyah. Yaitu Abu Musa Al-Asy’ari yang menjabat Al Wali untuk wilayah Irak, Azarbaijan dan Armenia, yang berkedudukan di Kuffah (beliau ini adalah kakek buyut dari Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, yang kelak mendirikan mazhab Ahlussunah wal Jama’ah pada abad ke 4 H/10 M). Selebihnya adalah keluarga Bani Umayyah semua yang diangkat pada masa pemerintahan Utsman ibn Affan. Itupun terjadi setelah tuntutan warga Kuffah untuk mengganti pejabat Al Wali sebelumnya Said ibn Ash ibn Umayyah yang masih saudara sepupu Utsman ibn Affan, akhirnya dipenuhi oleh Khalifah. Sementara Muhammad ibn Abu-Bakar yang sudah ditetapkan sebagai Al Wali untuk wilayah Mesir dan Tripoli, belum dapat dieksekusi karena terjadinya kemelut dan masih tetap berada di bawah kekuasaan Abdullah ibn Abi-Sarrah.

Jadi, kalaulah menyelidiki pembunuh Utsman yang lebih dahulu dilakukan oleh Ali, maka boleh jadi dia tidak akan memperoleh dukungan dari warga Kuffah. Karena tuntutan yang pertama sekali meminta untuk mengganti Khalifah Utsman memang datang dari Kuffah. Lalu Muhammad ibn Abi-Bakar boleh jadi kemudian akan berbalik menentangnya pula. Dengan itu boleh jadi dia masih akan bersahabat dengan Thulhah ibn Ubaidullah dan Zubair ibn Awwam, tetapi siapa pula yang akan membelanya, sendirian di tengah-tengah keluarga Umayyah, rezim nepotisme yang selalu ditentangnya sejak Khalifah Utsman masih berkuasa? Kedua mereka itu memang merupakan panglima-panglima yang perkasa di medan perang bahkan sejak Rasulullah SAW masih hidup, tetapi sikap mereka terhadap gejala nepotisme sebetulnya tidak pernah jelas.

Karena itulah, hal yang pertama sekali akan dilakukan oleh Ali ibn Abithalib setelah menjabat Khalifah, adalah mengurangi semaksimal mungkin pengaruh keluarga Umayyah di dalam pemerintahannya. Hanya dengan begitulah dia akan dapat menegakkan wibawa pemerintahannya dan menerapkan hukum syari’at sebagaimana mestinya, termasuk mengadili pembunuh Utsman ibn Affan. Ketika rencana itu disampaikan kepada golongan Al- Shahabi (secara fiqh kemudian berarti para shahabat yang sempat hidup dan bertemu muka dengan Rasulullah SAW), umumnya mereka menentang rencana Khalifah Ali itu. Untuk Abdullah ibn Abbas sempat berkata kepadanya : “inna-ka syuja’un wa-lasta bi shahibil ra’yi” (anda ini seorang panglima, bukan seorang negarawan). Namun sayangnya, dari sekian banyak keritikan yang ditujukan kepada dirinya, tak satupun yang memberikan solusi lebih baik dari apa yang sedang direncakannya. Sedangkan tradisi musyawarah diantara para shahabat utama, yang sudah menjadi bagian pokok dari sistem pemerintahan pada masa Rasulullah SAW dan dua penggantinya (Abubakar Ash-Shiddieq dan Umar ibn Khattab) masih hidup, sudah tidak dapat dijalankan lagi seperti sedia kala. Disamping para shahabat utama memang tidak banyak lagi yang masih tinggal hidup, sementara yang tersisa sudah “mengidap luka” dan saling curiga satu sama lainnya akibat konflik politik yang tidak dapat diselesaikan secara baik. Abubakar r.a. dan Umar r.a. meski berhasil mempertahankan tradisi musyawarah, namun abai di dalam membangun kader penerus yang dapat menggantikan peranan para shahabat utama sebagai “lingkar dalam” pada sistem pemerintahannya. Sementara Utsman r.a. memilih mengganti “lingkar dalam” itu dalam sistem pemerintahannya, dari kalangan keluarganya sendiri.

Sekalipun banyak ditentang oleh para Al-Shahabi, Khalifah Ali ibn Abithalib tidak punya pilihan lain selain menjalankan rencananya sendiri. Iapun memulihkan kedudukan Abdullah ibn Arqam menjabat Bait al-Mal (perbendaharaan Negara) dan memulihkan kedudukan Zaid ibn Tsabit mengepalai Al Dawawin (sekretariat Negara). Mengangkat Qutsam ibn Abbas menjabat Al Amil (kepala daerah) dari kota Mekkah, dan mengangkat Tammam ibn Abbas menjadi Al Amil (walikota) ibukota Madinah al-Munawwarah. Muhammad ibn Abi-Bakar, sesuai dengan pengangkatan pada masa terakhir dari Khalif Utsman, diperintahkan berangkat ke Mesir untuk menjabat Al Wali (vice-roy) wilayah Mesir dan Tripoli. [24] Keputusan itu dengan sendirinya mengecewakan para Al Shahabi, yang umumnya kemudian memilih menarik diri dari percaturan politik di Madinah.
___________

[23] Ibid, hlm 454

Tidak ada komentar:

Posting Komentar